Tanggal 17 Agustus 2009 jam 3:30 sore.. Kalau hari libur begini saya biasa bermalas-malasan, tidur larut malam sebelumnya, kemudian paginya bagun jam 11 siang dan sehabis ashar tidur lagi sampai menjelang maghrib. Kadang saya bermimpi yang mau nggak mau selalu saya pikirkan, seperti mimpi sore ini.. begini ceritanya
Tiba-tiba saja saya berada di kendaraan umum, di kampung saya biasa disebut ‘kol’, apa begitu penulisannya saya tidak terlalu yakin dan saya tidak peduli, memang terdengar seperti nama sayuran.. orang-orang di dalamnya hanya satu yang saya kenal, paman ‘kecil’ saya yang sudah meninggal beberapa tahun lalu. Saya menyebutnya paman kecil karena usianya lebih muda dari saya.. Saya sering bermimpi ketemu dengan paman ‘kecil’ saya ini, terutama sejak dia meninggal..
Kali ini paman saya menemani orang tua yang tidak saya kenal. Penampilan orang tua itu seperti seorang petani yang baru mau pulang dari sawah, Saya berpikir sejak kapan seorang petani yang pulang dari sawah naik ‘kol’? sejauh apa sawahnya sehingga tidak bisa pulang dengan jalan kaki saja?. Saya tidak berani bertanya dan hanya bisa menerima keadaan yang disodorkan mimpi itu. Saya tidak bisa menggambarkan wajahnya secara jelas padahal pada saat mimpi itu terlihat jelas, sekarang terasa kabur. Seingat saya wajahnya biasa saja seperti petani tua umumnya..
Dia membawa wadah air minum, di kampung saya namanya ‘gembes’, biasanya wadah ini dipakai untuk mengambil air dari sumur air minum.. waktu kecil dengan sepeda saya sering mengambil air minum dengan ‘gembes’ jenis ini, biasanya 2 buah diletakkan di sisi kiri dan kanan ‘boncengan’ sepeda. Dalam ‘gembes’ yang dibawa orang tua itu terisi air berwarna coklat, persis seperti air sumur sehabis dihajar hujan deras sebelumnya. ini bukan hal aneh karena dulu saya sering mengambil air dengan wujud seperti itu, setelah dimasukkan kedalam ‘gentong’, air biasanya akan jernih dengan sendirinya..
Paman saya membawa sejinjing peralatan untuk perbekalan makanan di sawah, dari cara menata peralatan itu yang terlihat serampangan, jelas perbekalan itu sudah tidak ada isinya. Jinjingannya terlihat aneh, seperti tas tetapi tembus pandang, seolah agar setiap orang bisa melihat jelas isinya.. semua penumpang ‘kol’ tidak memperhatikan kedua orang ini, tidak ada percakapan, semua diam dan larut dalam pikiran masing-masing.. terlihat misterius dan buram..
Rute kendaraan ini, yang saya tahu dan memang saya inginkan, adalah mendekati rumah saya karena saya memang bermaksud pulang, saya tidak tahu habis darimana, yang jelas saya mau pulang ke rumah. Tetapi rute ini tidak seperti yang saya bayangkan, seolah campuran potongan-potongan dari jalan di 2 kampung sebelah. Saya pernah menyusuri jalan-jalan itu sewaktu saya masih remaja dengan teman-teman saya, salah satunya mungkin paman saya ini. Pada saat menjelang buka puasa bulan ramadhan biasanya remaja-remaja di kampung saya suka menghabiskan waktu menyusuri jalan-jalan di kampung sebelah.. Anehnya saya terima saja rute ini dan yakin akan sampai ke rumah.
Di tengah jalan, tepatnya di dekat jalur kereta api, mendadak kendaraan berhenti dan semua penumpang dipaksa turun.
“Kenapa berhenti di sini? nanggung banget! rumahku sedikit lagi di depan?!” teriakku.
Tidak ada jawaban semua diam dan bubar. Dari semua penumpang tinggallah kami bertiga, saya, paman saya dan orang tua itu, sementara di sekitar kami terlihat sibuk orang berkendara dan berjalan kaki tetapi tidak terdengar sepatahpun percakapan.. semua terlihat serius.. Kami bertiga mulai menyusuri jalan
“pak, sini saya bawakan gembesnya” kataku menawarkan bantuan,
Karena saya kasihan melihat dia tertatih berjalan sambil membawa beban berat. Paman saya dengan jinjingannya terlihat mantap berjalan di samping orang tua itu tanpa banyak bicara padahal paman yang saya kenal dulu senang ngobrol terutama yang konyol-konyol. Saya suka tertawa lepas jika ngobrol dengannya, banyak hal lucu keluar dari mulutnya. Itu dulu, sekarang dia terlihat lebih serius walapun wajahnya tidak muram tetapi juga tidak ada rona kegembiraan, semua datar. Saya berjalan di belakang mereka. Mendadak orang tua itu berbalik dan berkata
“Mas mau coba minum air itu?”
“Boleh?” tanyaku karena sebetulnya saya memang merasa haus,
tanpa menjawab orang tua itu mengambil gelas dari jinjingan paman saya dan segera menuangkannya, kemudian menyorongkan gelas berisi air berwarna coklat. Saya meminumnya, tidak ada rasa jijik karena waktu kecil saya biasa minum air yang seperti itu. Rasanya manis, tetapi tidak menyegarkan, saya merasa airnya kurang banyak, air itu tidak menghilangkan dahaga saya. Tetapi saya tidak berani memintanya lagi walaupun saya masih ingin minum karena orang tua itu segera melanjutkan perjalanan dan diikuti oleh paman saya. Tidak ada percakapan… air berwarna coklat itu malah semakin membuat saya semakin haus.. Saya diam dan mengikuti mereka. cukup lama kami berjalan.
Seperti ada yang mengingatkannya, orang tua itu segera berbalik dan melihat ‘gembes’ yang sedang saya bawa. Saya menurunkannya dan ikut memeriksanya, aneh! isinya sekarang hampir habis padahal tidak ada yang bocor walaupun di bagian bawah ada goresan seperti sebagai penanda volume air yang mengitari ‘gembes’, Ketinggian air tepat di goresan itu. Dan Saya tidak merasa berat beban yang saya bawa berkurang.
Orang tua itu menatap saya, matanya seolah berkata ‘kamu yang menghabiskannya?’, tentu saja tidak ada yang terucap dari mulut saya. Saya berpikir ‘apa iya karena saya haus sambil berjalan saya terus meminumnya? bagaimana caranya? dan air sebanyak itu masa iya saya mampu menghabiskannya?’ air yang hilang setidaknya 1 gallon lebih dan saya masih merasa haus.
Orang tua itu merampas dengan lembut ‘gembes’ itu kemudian segera pergi.
“Mau kemana?” teriakku,
mulutnya terlihat mengucapkan sesuatu tetapi tidak terdengar apapun, karena seperti kilat dia sudah jauh berjalan meninggalkan saya dan paman. Paman tidak terlihat mengejarnya, tidak ada rona tertentu di wajahnya, datar saja. Saya jadi merasa bersalah dan bertanya-tanya, air apa itu? kenapa orang tua itu begitu tergesa mengambilnya lagi? Apa akan ada orang yang marah jika dia tidak membawanya saat dia kembali pulang? atau akan ada yang mati tanpa air itu?.
Sebelum saya mendapatkan jawabannya, saya terbangun tepat jam 16:37. Saya penasaran dan mencoba tidur lagi agar kejadian ini tersambung dan semua pertanyaan saya terjawab atau setidaknya saya melihat orang tua itu kembali membawa air yang berwarna coklat itu dan perasaan bersalah saya sedikit berkurang. Tetapi tentu saja tidak ada mimpi yang bisa disambung lagi, Saya terbangun lagi jam 17:25 tanpa bermimpi apapun.. gelap.
Nuwun..
Related Posts
No related posts.