Tumben banget.. hari minggu 18 Oktober 2009 jam 8 pagi ini saya terjaga dan bisa beraktivitas, biasanya kalau hari libur saya biasa bangun jam 11 siang. Saat itu saya sedang merendam pakaian kotor untuk dicuci akibat aktivitas sepekan yang lalu. Seperti umumnya hari minggu yang lain, setelah merendam cucian selanjutnya saya nyapu lantai mulai dari teras, ruang depan, tengah, belakang dan akhirnya kembali lagi ke kamar mandi di mana barusan saya merendam pakaian. Kamar mandi tempat saya ngontrak ini ukurannya kira-kira 2,75 x 1,25 m, saya biasa meletakkan bak rendaman pakaian 80 cm tepat di depan pintu kamar mandi, dari luar kamar mandi tampak jelas. Beberapa centimeter ke kiri terdapat ember penampung air yang mengalir langsung dari kran, air kran diambil dari sumur yang dipakai beramai-ramai dengan 20 rumah di blok kontrakan itu. Ke kiri sedikit dari ember ada WC sekaligus tempat pembuangan air. Saya sering membatin kalau lubang WC ini mampet, semua ruangan pasti terendam air.. jijik sekali membayangkannya! untungnya tidak pernah terjadi. .
Pada saat ‘sapuan’ saya sampai di depan pintu kamar mandi, sepintas saya melihat sesuatu di atas rendaman. Waktu itu saya tidak terlalu memperhatikan bak rendaman pakaian, karena pikiran saya ingin segera ngepel lantai yang sudah saya sapu tadi. Rasa-rasanya seperti boneka mungil yang biasa dijual di toko mainan, sama sekali tidak terpikirkan boneka siapa itu dan kenapa bisa ada di sana, padahal saya hidup sendiri saja..
Saya bergegas mengambil alat pel bergagang yang tergantung di dinding, membasahinya dengan air dan menyusuri blok demi blok lantai keramik.. Alangkah terkejutnya saya ketika secara tidak sengaja saya melihat sosok di atas rendaman pakaian itu sekarang jauh lebih besar dan terasa memenuhi bak rendaman.. segera saya melempar pel dan menghampiri bak rendaman.. Ada bayi di sana! dia terlentang dengan kepalanya miring ke kiri, sebagian wajahnya terendam air kotor di bak rendaman. Air itu terlihat beriak dan bak rendaman telah bergeser beberapa centimeter dari kondisi semula – saya biasa meletakkan bak rendaman persis menempel di dinding. Saya merasa merinding, bayi itu jelas telah mati, dadanya tidak terlihat adanya gerakan, begitu juga dengan kakinya, terlihat lemas. Saya tidak berani melakukan apa-apa, saya biarkan bayi itu di sana dan segera menelpon paman saya yang ada di Kebayoran untuk datang ke kontrakan saya di Tangerang..
Beberapa jam kemudian paman saya ini datang, dan bergegas memeriksa bayi itu,
“Wis mati, No!, ceritane piben sih? bisane ana bayi mati ning kene? toli bayine sapa kiye?”, kalau diterjemahkan kira-kira begini: Sudah mati No (-panggilan yang biasa paman lakukan untuk saya-)!, kejadiannya gimana, sih? kenapa ada bayi mati di sini? terus ini bayi siapa?,
“Embuh..”, (nggak tahu..) hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut saya.
Kami diam beberapa saat setelah paman saya membaringkan bayi itu di atas tumpukan kain kering di ruang belakang. Sepertinya paman juga tidak bisa mencerna apa yang sebenarnya terjadi..
“Angger konangan wong bahaya kie, saiki kaya kie bae, ubine dibongkar toli bayine dikubur ning kene, toli koen pindah kontrakan” (Kalau ketahuan orang bahaya, sekarang begini aja, lantainya kita bongkar terus bayinya dikubur di sini, terus kamu pindah kontrakan), begitu paman saya memberi solusi.
Saya hanya diam saja, gemetar, saya tidak bisa berfikir.. bahkan ketika paman membongkar lantai pojok kiri kamar mandi, saya masih diam dan gemetar.. perlahan paman mengubur bayi itu dan kembali menutup rapi lantainya..
Belum selesai paman membersihkan tanah bekas kuburan bayi itu, pintu depan diketuk dari luar. Jantung saya terasa mau copot, saya menatap paman meminta pendapat.. dia hanya mendongak dan mengoyangkan kepala sebagai isyarat agar saya ke depan untuk melihat siapa yang datang.. Sayapun membukakan pintu, di luar keadaannya gelap, rupanya sudah malam dan.. di teras ada seorang wanita yang wajahnya terasa familier bagi saya tetapi saya lupa-lupa ingat
“Ada apa?” saya bertanya, dengan tersenyum dia menjawab
“Terima kasih mas mau menjaga bayi saya, sekarang saya mau pulang, anak saya mana?”
Bayi? anak? saya gugup sekali.. jadi ini ibunya? kapan dia menitipkannya?. Badan saya tiba-tiba panas dan keringat saya membanjir keluar.. pandangan saya terasa gelap, pening serasa mau pingsan. Saya memejamkan mata menenangkan diri dan mencari kata-kata yang pas agar wanita ini mau menerima kejadian yang menimpa anaknya..
Kemudian saya membuka mata.. pemandangan di depan saya tiba-tiba berubah.. tidak ada lagi sosok wanita itu, hanya ada kipas angin kecil berwarna biru dan lampu yang menempel di langit-langit kamar.. dan saya sedang terbaring.. Ah, rupanya saya bermimpi.. syukurlah..
Saya segera ke kamar mandi untuk membasuh muka dan mandi karena walaupun cuma mimpi, wajah dan badan saya tetap berkeringat. Dan di pojok kamar mandi terlihat ada ceceran tanah di atas lantai persis di mana bayi itu dikuburkan, walapun tidak sebanyak ketika terakhir saya lihat sebelum membukakan pintu bagi wanita itu.. mungkin karena saya keburu terjaga dari mimpi sebelum paman saya selesai membereskannya.. tapi itukan cuma mimpi..
Jarum jam di dinding kamar mandi menunjukkan pukul 13:30 siang, dan masih di hari minggu 18 Oktober 2009.. kali ini apakah saya benar-benar terjaga, atau sekarang sebenarnya saya sedang bermimpi karena pingsan akibat kejadian itu dan tekanan dari wanita di teras tadi.. bahkan mungkin saat ini saya sedang di kelilingi oleh banyak orang termasuk wanita itu..
Sekarang mimpi atau nyata? saya tidak lagi bisa membedakan keduanya, kadang keduanya berdiri sendiri tetapi kadang terjalin menjadi cerita. Sering saya bermimpi berada di suatu tempat dan beberapa tahun berikutnya tempat itu saya kunjungi beserta kejadiannya, persis dengan mimpi itu. Contohnya ketika saya mendaki gunung Merapi tahun 1998 dan saya bermimpi tentang pendakian itu dua tahun sebelumnya. Saya juga sering melakukan sesuatu di ‘alam yang saya sangka nyata’, kemudian terulang lagi di waktu yang berbeda ketika saya tidur dan saya berada di ‘alam yang saya sangka mimpi’.. Lalu bagaimana saya menandai kehidupan di ‘alam nyata’ dan kehidupan di ‘alam mimpi’?.. mungkin ‘alam’ yang sering saya jumpai itulah ‘alam nyata’. Tetapi ‘alam yang saya sangka mimpi’ juga bisa melintasi banyak waktu walaupun hanya sebagian yang bisa tergambar dan terekam dalam memori, seperti kejadian di ‘alam nyata’ yang juga hanya sebagian saja yang terekam di memori.. Aduh..
Tiba-tiba saja pandangan saya gelap.. dan ketika saya membuka mata, saya terbaring di ruangan serba putih kemudian.. saya melihat ibu dari bayi tadi sedang menatap saya dan berkata
“Gimana kepalanya, mas!, masih sakit?” sambil tersenyum manis, dia meneteskan air mata haru,
“Kamu beruntung! nggak ada wanita seperti istrimu ini. Sudah seminggu ini dia nungguin kamu”, seorang laki-laki gemuk menyembulkan kepalanya di belakang pundak kanan wanita itu.
Lah.. sekarang dia istri saya?.. seseorang tolong bangunkan saya..
Nuwun..