<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Together.. &#187; Mimpi</title>
	<atom:link href="http://www.havetogether.com/category/oret-oretan/mimpi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.havetogether.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 04 Oct 2011 08:13:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Bayi Mati Terendam di Bak Cucian</title>
		<link>http://www.havetogether.com/bayi-mati-terendam-di-bak-cucian.html</link>
		<comments>http://www.havetogether.com/bayi-mati-terendam-di-bak-cucian.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Oct 2009 21:21:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[Nyata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.havetogether.com/?p=94</guid>
		<description><![CDATA[Ada bayi di sana! dia terlentang dengan kepalanya miring ke kiri, sebagian wajahnya terendam air kotor di bak cucian. Air itu terlihat beriak dan bak rendaman telah bergeser beberapa centimeter dari kondisi semula..]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Tumben banget.. hari minggu 18 Oktober 2009 jam 8 pagi ini saya terjaga dan bisa beraktivitas, biasanya kalau hari libur saya biasa bangun jam 11 siang. Saat itu saya sedang merendam pakaian kotor untuk dicuci akibat aktivitas sepekan yang lalu. Seperti umumnya hari minggu yang lain, setelah merendam cucian selanjutnya saya nyapu lantai mulai dari teras, ruang depan, tengah, belakang dan akhirnya kembali lagi ke kamar mandi di mana barusan saya merendam pakaian. Kamar mandi tempat saya ngontrak ini ukurannya kira-kira 2,75 x 1,25 m, saya biasa meletakkan bak rendaman pakaian 80 cm tepat di depan pintu kamar mandi, dari luar kamar mandi tampak jelas. Beberapa centimeter ke kiri terdapat ember penampung air yang mengalir langsung dari kran, air kran diambil dari sumur yang dipakai beramai-ramai dengan 20 rumah di blok kontrakan itu. Ke kiri sedikit dari ember ada WC sekaligus tempat pembuangan air. Saya sering membatin kalau lubang WC ini mampet, semua ruangan pasti terendam air.. jijik sekali membayangkannya! untungnya tidak pernah terjadi. .</p>
<p style="text-align: justify;">Pada saat &#8216;sapuan&#8217; saya sampai di depan pintu kamar mandi, sepintas saya melihat sesuatu di atas rendaman. Waktu itu saya tidak terlalu memperhatikan bak rendaman pakaian, karena pikiran saya ingin segera ngepel lantai yang sudah saya sapu tadi. Rasa-rasanya seperti boneka mungil yang biasa dijual di toko mainan, sama sekali tidak terpikirkan boneka siapa itu dan kenapa bisa ada di sana, padahal saya hidup sendiri saja..</p>
<p style="text-align: justify;">Saya bergegas mengambil alat pel bergagang yang tergantung di dinding, membasahinya dengan air dan menyusuri blok demi blok lantai keramik.. Alangkah terkejutnya saya ketika secara tidak sengaja saya melihat sosok di atas rendaman pakaian itu sekarang jauh lebih besar dan terasa memenuhi bak rendaman.. segera saya melempar pel dan menghampiri bak rendaman.. Ada bayi di sana! dia terlentang dengan kepalanya miring ke kiri, sebagian wajahnya terendam air kotor di bak rendaman. Air itu terlihat beriak dan bak rendaman telah bergeser beberapa centimeter dari kondisi semula &#8211; saya biasa meletakkan bak rendaman persis menempel di dinding. Saya merasa merinding, bayi itu jelas telah mati, dadanya tidak terlihat adanya gerakan, begitu juga dengan kakinya, terlihat lemas. Saya tidak berani melakukan apa-apa, saya biarkan bayi itu di sana dan segera menelpon paman saya yang ada di Kebayoran untuk datang ke kontrakan saya di Tangerang..</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa jam kemudian paman saya ini datang, dan bergegas memeriksa bayi itu,</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">&#8220;Wis mati, No!, ceritane piben sih? bisane ana bayi mati ning kene? toli bayine sapa kiye?&#8221;, kalau diterjemahkan kira-kira begini: <em>Sudah mati No </em>(-panggilan yang biasa paman lakukan untuk saya-)<em>!, kejadiannya gimana, sih? kenapa ada bayi mati di sini? terus ini bayi siapa?</em>,<br />
&#8220;Embuh..&#8221;, (<em>nggak tahu..</em>) hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami diam beberapa saat setelah paman saya membaringkan bayi itu di atas tumpukan kain kering di ruang belakang. Sepertinya paman juga tidak bisa mencerna apa yang sebenarnya terjadi..</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">&#8220;Angger konangan wong bahaya kie, saiki kaya kie bae, ubine dibongkar toli bayine dikubur ning kene, toli koen pindah kontrakan&#8221; (<em>Kalau ketahuan orang bahaya, sekarang begini aja, lantainya kita bongkar terus bayinya dikubur di sini, terus kamu pindah kontrakan</em>), begitu paman saya memberi solusi.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya hanya diam saja, gemetar, saya tidak bisa berfikir.. bahkan ketika paman membongkar lantai pojok kiri kamar mandi, saya masih diam dan gemetar.. perlahan paman mengubur bayi itu dan kembali menutup rapi lantainya..</p>
<p style="text-align: justify;">Belum selesai paman membersihkan tanah bekas kuburan bayi itu, pintu depan diketuk dari luar. Jantung saya terasa mau copot, saya menatap paman meminta pendapat.. dia hanya mendongak dan mengoyangkan kepala sebagai isyarat agar saya ke depan untuk melihat siapa yang datang.. Sayapun membukakan pintu, di luar keadaannya gelap, rupanya sudah malam dan.. di teras ada seorang wanita yang wajahnya terasa familier bagi saya tetapi saya lupa-lupa ingat</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">&#8220;Ada apa?&#8221; saya bertanya, dengan tersenyum dia menjawab<br />
&#8220;Terima kasih <em>mas</em> mau menjaga bayi saya, sekarang saya mau pulang, anak saya mana?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Bayi? anak? saya gugup sekali.. jadi ini ibunya? kapan dia menitipkannya?. Badan saya tiba-tiba panas dan keringat saya membanjir keluar.. pandangan saya terasa gelap, pening serasa mau pingsan. Saya memejamkan mata menenangkan diri dan mencari kata-kata yang pas agar wanita ini mau menerima kejadian yang menimpa anaknya..</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian saya membuka mata.. pemandangan di depan saya tiba-tiba berubah.. tidak ada lagi sosok wanita itu, hanya ada kipas angin kecil berwarna biru dan lampu yang menempel di langit-langit kamar.. dan saya sedang terbaring.. Ah, rupanya saya bermimpi.. syukurlah..</p>
<p style="text-align: justify;">Saya segera ke kamar mandi untuk membasuh muka dan mandi karena walaupun cuma mimpi, wajah dan badan saya  tetap berkeringat. Dan di pojok kamar mandi terlihat ada ceceran tanah di atas lantai persis di mana bayi itu dikuburkan, walapun tidak sebanyak ketika terakhir saya lihat sebelum membukakan pintu bagi wanita itu.. mungkin karena saya keburu terjaga dari mimpi sebelum paman saya selesai membereskannya.. tapi itukan cuma mimpi..</p>
<p style="text-align: justify;">Jarum jam di dinding kamar mandi menunjukkan pukul 13:30 siang, dan masih di hari minggu 18 Oktober 2009.. kali ini apakah saya benar-benar terjaga, atau sekarang sebenarnya saya sedang bermimpi karena pingsan akibat kejadian itu dan tekanan dari wanita di teras tadi.. bahkan mungkin saat ini saya sedang di kelilingi oleh banyak orang termasuk wanita itu..</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang mimpi atau nyata? saya tidak lagi bisa membedakan keduanya, kadang keduanya berdiri sendiri tetapi kadang terjalin menjadi cerita. Sering saya bermimpi berada di suatu tempat dan beberapa tahun berikutnya tempat itu saya kunjungi beserta kejadiannya, persis dengan mimpi itu. Contohnya ketika saya mendaki gunung Merapi tahun 1998 dan saya bermimpi tentang pendakian itu dua tahun sebelumnya. Saya juga sering melakukan sesuatu di &#8216;alam yang saya sangka nyata&#8217;, kemudian terulang lagi di waktu yang berbeda ketika saya tidur dan saya berada di &#8216;alam yang saya sangka mimpi&#8217;.. Lalu bagaimana saya menandai kehidupan di &#8216;alam nyata&#8217; dan kehidupan di &#8216;alam mimpi&#8217;?.. mungkin &#8216;alam&#8217;  yang sering saya jumpai itulah &#8216;alam nyata&#8217;. Tetapi &#8216;alam yang saya sangka mimpi&#8217; juga bisa melintasi banyak waktu walaupun hanya sebagian yang bisa tergambar dan terekam dalam memori, seperti kejadian di &#8216;alam nyata&#8217; yang juga hanya sebagian saja yang terekam di memori.. Aduh..</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba saja pandangan saya gelap.. dan ketika saya membuka mata, saya terbaring di ruangan serba putih kemudian.. saya melihat ibu dari bayi tadi sedang menatap saya dan berkata</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">&#8220;Gimana kepalanya, mas!, masih sakit?&#8221; sambil tersenyum manis, dia meneteskan air mata haru,<br />
&#8220;Kamu beruntung! nggak ada wanita seperti istrimu ini. Sudah seminggu ini dia nungguin kamu&#8221;, seorang laki-laki gemuk menyembulkan kepalanya di belakang pundak kanan wanita itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Lah.. sekarang dia istri saya?.. seseorang tolong bangunkan saya..</p>
<p style="text-align: justify;">Nuwun..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.havetogether.com/bayi-mati-terendam-di-bak-cucian.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Air Berwarna Coklat</title>
		<link>http://www.havetogether.com/air-berwarna-coklat.html</link>
		<comments>http://www.havetogether.com/air-berwarna-coklat.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Aug 2009 18:36:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mimpi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.havetogether.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[Tiba-tiba saja saya berada di kendaraan umum, di kampung saya biasa disebut 'kol'.. orang-orang di dalamnya hanya satu yang saya kenal, paman 'kecil' saya yang sudah meninggal beberapa tahun lalu...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Tanggal 17 Agustus 2009 jam 3:30 sore.. Kalau hari libur begini saya biasa bermalas-malasan, tidur larut malam sebelumnya, kemudian paginya bagun jam 11 siang dan sehabis ashar tidur lagi sampai menjelang maghrib. Kadang saya bermimpi yang mau nggak mau selalu saya pikirkan, seperti mimpi sore ini.. begini ceritanya</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba saja saya berada di kendaraan umum, di kampung saya biasa disebut &#8216;kol&#8217;, apa begitu penulisannya saya tidak terlalu yakin dan saya tidak peduli, memang terdengar seperti nama sayuran.. orang-orang di dalamnya hanya satu yang saya kenal, paman &#8216;kecil&#8217; saya yang sudah meninggal beberapa tahun lalu. Saya menyebutnya paman kecil karena usianya lebih muda dari saya.. Saya sering bermimpi ketemu dengan paman &#8216;kecil&#8217; saya ini, terutama sejak dia meninggal..</p>
<p style="text-align: justify;">Kali ini paman saya menemani orang tua yang tidak saya kenal. Penampilan orang tua itu seperti seorang petani yang baru mau pulang dari sawah, Saya berpikir sejak kapan seorang petani yang pulang dari sawah naik &#8216;kol&#8217;? sejauh apa sawahnya sehingga tidak bisa pulang dengan jalan kaki saja?. Saya tidak berani bertanya dan hanya bisa menerima keadaan yang disodorkan mimpi itu. Saya tidak bisa menggambarkan wajahnya secara jelas padahal pada saat mimpi itu terlihat jelas, sekarang terasa kabur. Seingat saya wajahnya biasa saja seperti petani tua umumnya..</p>
<p style="text-align: justify;">Dia membawa wadah air minum, di kampung saya namanya &#8216;gembes&#8217;, biasanya wadah ini dipakai untuk mengambil air dari sumur air minum.. waktu kecil dengan sepeda saya sering mengambil air minum dengan &#8216;gembes&#8217; jenis ini, biasanya 2 buah diletakkan di sisi kiri dan kanan &#8216;boncengan&#8217; sepeda. Dalam &#8216;gembes&#8217; yang dibawa orang tua itu terisi air berwarna coklat, persis seperti air sumur sehabis dihajar hujan deras sebelumnya. ini bukan hal aneh karena dulu saya sering mengambil air dengan wujud seperti itu, setelah dimasukkan kedalam &#8216;gentong&#8217;, air biasanya akan jernih dengan sendirinya..</p>
<p style="text-align: justify;">Paman saya membawa sejinjing peralatan untuk perbekalan makanan di sawah, dari cara menata peralatan itu yang terlihat serampangan, jelas perbekalan itu sudah tidak ada isinya. Jinjingannya terlihat aneh, seperti tas tetapi tembus pandang, seolah agar setiap orang bisa melihat jelas isinya.. semua penumpang &#8216;kol&#8217; tidak memperhatikan kedua orang ini, tidak ada percakapan, semua diam dan larut dalam pikiran masing-masing.. terlihat misterius dan buram..</p>
<p style="text-align: justify;">Rute kendaraan ini, yang saya tahu dan memang saya inginkan, adalah mendekati rumah saya karena saya memang bermaksud pulang, saya tidak tahu habis darimana, yang jelas saya mau pulang ke rumah. Tetapi rute ini tidak seperti yang saya bayangkan, seolah campuran potongan-potongan dari jalan di 2 kampung sebelah. Saya pernah menyusuri jalan-jalan itu sewaktu saya masih remaja dengan teman-teman saya, salah satunya mungkin paman saya ini. Pada saat menjelang buka puasa bulan ramadhan biasanya remaja-remaja di kampung saya suka menghabiskan waktu menyusuri jalan-jalan di kampung sebelah.. Anehnya saya terima saja rute ini dan yakin akan sampai ke rumah.</p>
<p style="text-align: justify;">Di tengah jalan, tepatnya di dekat jalur kereta api, mendadak kendaraan berhenti dan semua penumpang dipaksa turun.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">&#8220;Kenapa berhenti di sini? nanggung banget! rumahku sedikit lagi di depan?!&#8221; teriakku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak ada jawaban semua diam dan bubar. Dari semua penumpang tinggallah kami bertiga, saya, paman saya dan orang tua itu, sementara di sekitar kami terlihat sibuk orang berkendara dan berjalan kaki tetapi tidak terdengar sepatahpun percakapan.. semua terlihat serius.. Kami bertiga mulai menyusuri jalan</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">&#8220;pak, sini saya bawakan gembesnya&#8221; kataku menawarkan bantuan,</p>
<p style="text-align: justify;">Karena saya kasihan melihat dia tertatih berjalan sambil membawa beban berat. Paman saya dengan jinjingannya terlihat mantap berjalan di samping orang tua itu tanpa banyak bicara padahal paman yang saya kenal dulu senang ngobrol terutama yang konyol-konyol. Saya suka tertawa lepas jika ngobrol dengannya, banyak hal lucu keluar dari mulutnya. Itu dulu, sekarang dia terlihat lebih serius walapun wajahnya tidak muram tetapi juga tidak ada rona kegembiraan, semua datar. Saya berjalan di belakang mereka. Mendadak orang tua itu berbalik dan berkata</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">&#8220;Mas mau coba minum air itu?&#8221;<br />
&#8220;Boleh?&#8221; tanyaku karena sebetulnya saya memang merasa haus,</p>
<p style="text-align: justify;">tanpa menjawab orang tua itu mengambil gelas dari jinjingan paman saya dan segera menuangkannya, kemudian menyorongkan gelas berisi air berwarna coklat. Saya meminumnya, tidak ada rasa jijik karena waktu kecil saya biasa minum air yang seperti itu. Rasanya manis, tetapi tidak menyegarkan, saya merasa airnya kurang banyak, air itu tidak menghilangkan dahaga saya. Tetapi saya tidak berani memintanya lagi walaupun saya masih ingin minum karena orang tua itu segera melanjutkan perjalanan dan diikuti oleh paman saya. Tidak ada percakapan&#8230; air berwarna coklat itu malah semakin membuat saya semakin haus.. Saya diam dan mengikuti mereka. cukup lama kami berjalan.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti ada yang mengingatkannya, orang tua itu segera berbalik dan melihat &#8216;gembes&#8217; yang sedang saya bawa. Saya menurunkannya dan ikut memeriksanya, aneh! isinya sekarang hampir habis padahal tidak ada yang bocor walaupun  di bagian bawah ada goresan seperti sebagai penanda volume air yang mengitari &#8216;gembes&#8217;, Ketinggian air tepat di goresan itu. Dan Saya tidak merasa berat beban yang saya bawa berkurang.</p>
<p style="text-align: justify;">Orang tua itu menatap saya, matanya seolah berkata &#8216;kamu yang menghabiskannya?&#8217;, tentu saja tidak ada yang terucap dari mulut saya. Saya berpikir &#8216;apa iya karena saya haus sambil berjalan saya terus meminumnya? bagaimana caranya? dan air sebanyak itu masa iya saya mampu menghabiskannya?&#8217; air yang hilang setidaknya 1 gallon lebih dan saya masih merasa haus.<br />
Orang tua itu merampas dengan lembut &#8216;gembes&#8217; itu kemudian segera pergi.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">&#8220;Mau kemana?&#8221; teriakku,</p>
<p style="text-align: justify;">mulutnya terlihat mengucapkan sesuatu tetapi tidak terdengar apapun, karena seperti kilat dia sudah jauh berjalan meninggalkan saya dan paman. Paman tidak terlihat mengejarnya, tidak ada rona tertentu di wajahnya, datar saja. Saya jadi merasa bersalah dan bertanya-tanya, air apa itu? kenapa orang tua itu begitu tergesa mengambilnya lagi? Apa akan ada orang yang marah jika dia tidak membawanya saat dia kembali pulang? atau akan ada yang mati tanpa air itu?.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum saya mendapatkan jawabannya, saya terbangun tepat jam 16:37. Saya penasaran dan mencoba tidur lagi agar kejadian ini tersambung dan semua pertanyaan saya terjawab atau setidaknya saya melihat orang tua itu kembali membawa air yang berwarna coklat itu dan perasaan bersalah saya sedikit berkurang. Tetapi tentu saja tidak ada mimpi yang bisa disambung lagi, Saya terbangun lagi jam 17:25 tanpa bermimpi apapun.. gelap.</p>
<p style="text-align: justify;">Nuwun..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.havetogether.com/air-berwarna-coklat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

