Bumi, planet yang umat manusia tinggali, sekitar 4,5 milyar tahun lalu hanya berupa bola pijar yang terbentuk dari elemen-elemen yang tidak sama dan tidak bisa diproduksi oleh reaksi fusi nuklir matahari, termasuk planet-planet lainnya. Keberadaan mereka ini menguatkan indikasi bahwa mereka berasal dari hasil ledakan supernova yang dekat dengan matahari, sehingga benda-benda langit ini kemudian terpengaruh oleh gaya gravitasi matahari, ikut terbawa bersamanya dan memadat karena gravitasinya sendiri.
Kerak bumi terbentuk sekitar 4 milyar tahun yang lalu, dari cairan mantel silikon yang membatu dengan ketebalan 60 sampai 80 km. Inti bumi yang terdiri dari elemen-elemen berat terutama besi terbentuk pertama kali ketika suhu bumi 6.000 0C. Batuan basalistik berada di atas mantel silikon, sedang batuan granit yang lebih ringan ditempatkan paling atas. Perhatikan surat Al-Ghaasyiyah : 20, yang artinya adalah seperti berikut ini:
“(Apakah mereka tidak memeriksa) bagaimana bumi dibentangkan?”
Bayangkan lelehan lahar yang menyembur keluar saat terjadi letusan gunung berapi di dasar samudera, seperti layaknya cairan yang amat panas dalam lapisan mantel bagian luar (astenosfer) terdapat gerakan konveksi kontinyu yang pada bagian tertentu membuat kerak bumi merekah sehingga batuan cair itu keluar ke permukaan. Ujung lidah cairan ini membelah ke kiri dan kanan, bagian yang mendesak batuan sekelilingnya pada akhirnya membeku. Lempengan di kiri dan kanan rekahan tersebut mendapatkan tambahan material dan bertambah luas sambil menjauhi rekahan tersebut. Beginilah bumi ini dibentangkan. Karena lempengan-lempengan ini bergerak saling menjauhi maka tidak ada tekanan antar lempeng seperti yang terjadi di tengah Samudera Atlantik. Surat Ar-Ra’d: 3
“Dan Dialah yang membentangkan bumi dan menjadikan di atasnya gunung-gunung dan sungai-sungai”
Jika lidah cairan panas yang menyusup di kerak bumi ini tidak bertemu samudera tetapi menemukan kontinen maka ia akan membentuk dapur magma yang menekan ke atas dan menyembulkan kontinen tersebut sehingga batuannya retak-retak dan aktivitas vulkanis muncul secara luas dan pada akhirnya bagian itu rontok. Lambat laun kontinen tersebut mengalami proses pemisahan dengan kontinen lain.
Sekitar 300 juta tahun yang lalu muncul di permukaan air bentangan daratan yang sangat luas, sebuah super kontinen yang oleh para ilmuan dikenal sebagai Pangea. Daratan luas ini berada di tengah samudera yang teramat luas dan disebut Panthalasea.
Sekitar 150 juta tahun lalu super kontinen ini terpecah menjadi Gondwana yang meliputi Afrika, Antartika, Australia, Amerika Selatan, dan Laurasia yang meliputi Asia, Eropa serta Amerika Utara. Kemudian kira-kira 55 juta tahun lalu kontinen-kontinen itu terpecah lagi menjadi kontinen yang terpisah seperti tersebut di atas. Dalam proses pemisahan tersebut, kontinen-kontinen itu terus bergerak, menggeser dan saling bertabrakan sampai sekarang. Amerika Selatan menggeser ke barat dan bergabung dengan Amerika Utara yang juga telah bergeser ke barat memisahkan diri dari Eropa. India bergeser ke utara dan bertabrakan dengan Asia sehingga mengangkat pegunungan Himalaya, serta menekan China sehingga kontinen ini menjorok ke arah timur. Australia memisahkan diri dari Antartika bergerak ke utara dan menabrak Asia sehingga memunculkan kepulauan di Indonesia dari dasar lautan. Lempeng dasar samudera Hindia dan lempeng kontinen Australia ini membentuk busur gunung berapi sepanjang 3.800 km.
Sekitar 5 juta tahun yang lalu Jazirah Arab memisahkan diri dari kontinen Afrika, menabrak Iran sehingga memunculkan gunung-gunung lipatan di sepanjang pantainya dan membentuk lembah-belah di Afrika Timur.
Jika Lempeng Pasifik dari samudera pasifik bergeser ke barat dan menabrak Indonesia bagian timur sehingga membentuk pegunungan Irian Jaya, maka Lempeng Indo-Australia menabrak Indonesia bagian selatan sehingga menyusup di bawahnya dan membentuk palung laut dalam di sebelah barat Sumatera. Pulau Sumatera dan palung di sebelah selatan Pulau Jawa terus tergeser dan karena gesekan dengan lempeng lain, sering menimbulkan gempa tektonik yang perpusat pada kedalaman 50 sampai 125 km. Lebih jauh lagi, ia masuk ke dalam cairan batuan yang ada sampai 700 km di dalam astenosfer ujung lempeng itu akan termakan lingkungannya, surat Ar-Ra’d : 41
“Apakah mereka tidak melihat bahwa secara berangsur-angsur Kami kurangi bumi itu dari ujung-ujungnya”
Dari sejarah terbentuk dan bergesernya kontinen-kontinen itu, terlihat bahwa gunung-gunung yang berada di kontinen tersebut tidak diam saja, tetapi ikut bergerak dan berpindah-pindah, seperti tersirat dalam surat An-Naml : 88
“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka mereka tetap di tempatnya, padahal mereka berjalan seperti jalannya awan”
Pergeseran kontinen ini dalam waktu sejuta tahun akan memindahkan sebuah benua sejauh 50 sampai 120 km. Gunung-gunung yang terdapat dalam suatu kontinen memiliki kaki sebagai pasak bagi kontinen tersebut sehingga kedudukannya mantap dan tidak berkeliaran semaunya. Perhatikan surat An-Naba’ : 6 -7 berikut ini
“Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan? Dan gunung-gunung sebagai pasak?”
Selanjutnya cekungan-cekungan di permukaan bumi mulai terisi air menjadi danau, sungai, laut dan samudera karena hujan yang terus-menerus akibat uap air yang berada di atmosfer mulai mengembun setelah suhu bumi lebih dingin lagi. Seandainya massa bumi hanya separohnya dari keadaan sekarang, maka bumi tidak akan mampu menahan uap air, terlepas seperti bulan yang tidak punya atmosfer dan uap air. Allah SWT telah menyiapkan segala sesuatunya demi kehidupan manusia yang memerlukan tanah pijakan yang padat. Renungkan surat An-Nahl : 12 berikut ini
“Dan Dia menundukkan bagimu malam dan siang, dan matahari serta bulan; dan bintang-bintang ditundukkannya dengan perintah-Nya; sesungguhnya dalam gejala alam tersebut terdapat ayat-ayat Allah bagi mereka yang mau berpikir “
Dikutip dari berbagai sumber
Nuwun..