Setiap makhluk hakekatnya mempunyai skenario hidup, yang kemudian lebih dikenal sebagai ‘takdir hidup’. Se-ngeyel apapun makhluk itu pada akhirnya dia tidak akan punya kuasa untuk menolak garis takdir yang sudah ditetapkan oleh Sang Penguasa Takdir, Allah SWT, Tuhan semesta alam. Tidak terkecuali benda-benda langit, seperti galaksi, planet dan sebagainya.. bagaimana takdir hidup benda-benda langit?
Untuk mempermudah bayangan benda langitnya sebesar apa, saya menjadikan matahari sebagai acuan.
1. Jika massa yang membentuk benda langit tersebut kurang dari seperseribu massa matahari, hanya reaksi kimiawi yang dapat terjadi dan benda itu hanya berupa pijar saja, sekalipun dalam proses pemadatan benda langit tersebut suhunya naik tinggi sebagai akibat terkumpulnya energi debu dan gas. Dan lama kelamaan ia merupakan benda langit yang dingin dan tidak bercahaya karena kehilangan panas yang dilepaskannya ke ruang jagat raya di sekitarnya. Planet-planet adalah benda semacam itu.
2. Jika massanya sekitar massa matahari, maka panas benda tersebut akan mampu menimbulkan reaksi nuklir yang memancarkan energi nuklir seperti yang terjadi di perut matahari, suhunya melebihi 20 juta oC. Energi itu juga terhambur ke ruang alam sekitarnya. Pancaran ini akan berlangsung lama sekali, sampai tak ada bahan di dalamnya yang dapat bereaksi nuklir pada suhu tersebut.
Karena unsur awal yang diciptakan Allah SWT adalah hidrogen, maka benda-benda langit di sekitarnya (atau lebih tepat disebut bintang) akan mengkonsumsi hidrogen dan mengubahnya dalam reaksi nuklir (yang berkecamuk didalamnya) menjadi helium atau unsur lain yang lebih berat, tergantung pada ketinggian suhunya. Bila hidrogen dari benda langit yang seperti matahari tersebut telah habis terkonsumsi, maka bintang itu mulai mendingin serta menyusut hingga volumenya menjadi kecil dan sangat padat. Gaya gravitasinya akan lebih memadatkannya lagi sampai tercapai suhu yang tinggi, yang memungkinkannya melanjutkan reaksi nuklir dan membentuk unsur-unsur yang lebih berat dari inti-inti helium.
Dalam benda langit yang seperti matahari, fusi helium ini hanya dapat menghasilkan inti atom karbon dan inti oksigen. Karena suhunya yang tinggi maka atmosfer mengembang begitu besar hingga ‘nyala apinya’ menelan benda-benda langit lain di dekatnya, ia tampak amat besar dan berwarna merah karena suhunya berkurang akibat ekspansinya. Bintang semacam ini disebut Raksasa Merah. Setelah itu bintang ini akan mendingin terus dan menyusut sampai ukurannya sangat kecil.
3. Benda langit yang beratnya sekitar lima kali matahari, karena massanya yang sangat besar itu temperatur di dalam pusatnya sangat tinggi sehingga ia cepat sekali menghabiskan hidrogennya dan mampu meneruskan proses pembentukan unsur yang lebih berat dalam reaksi fusi inti-inti helium sampai terbentuk inti atom neon, magnesium, silikon, serta belerang. Nukleosintesis, atau pembentukan inti atom-atom yang lebih berat melalui sintesis nuklir, ini akan terhenti setelah pembentukan besi, yang dihasilkan dalam proses fusi inti-inti atom silikon. Selanjutnya benda langit ini akan mengerut karena gravitasi, sedemikian rupa hingga suhunya naik lagi.
Di dalam teras benda langit tersebut terjadi fusi nuklir antara besi dan silikon kemudian teras tersebut mengalami perubahan radikal, ketika terjadi proses yang dikenal sebagai invers radioaktivitas-beta. Proses ini mengubah proton menjadi neutron dengan mengambil elektron dari lingkungannya. Elektron yang melimpah dalam teras tersebut masuk ke dalam inti atom karena gravitasi yang amat kuat sehingga proton ternetralisir dan semua inti atom tertransformasi seluruhnya menjadi gumpalan neutron yang runtuh ke dalam menuju pusatnya. Benda langit itu meledak dengan dahsyat dan menghamburkan hampir seluruh materinya (kemungkinan dua pertiganya) ke seluruh ruang alam di sekitarnya, kecuali sisa bintang yang runtuh ke dalam serta merupakan teras Super Nova. Materi yang terhambur itu berisi unsur-unsur yang lebih berat daripada besi sampai uranium, sedang teras yang tertinggal merupakan nukleus raksasa, yang ukurannya dapat mencapai 30 km dan terdiri dari neutron belaka. Untuk memberikan gambaran betapa padat benda langit ini, materi sebanyak tutup pensil saja massanya jutaan ton. Ia disebut bintang Neutron.
Karena seluruh materinya terdiri dari neutron yang berputar amat cepat dan gelombang elektromagnetik yang ditimbulkannya memancar ke berbagai pelosok jagat raya secara periodik, dalam pulsa-pulsa pendek maka ia dinamakan Pulsar (bintang yang berkedap-kedip).
4. Untuk benda langit yang lebih besar lagi, gumpalan neutron yang tersisa diremas oleh gaya gravitasinya sendiri sehingga ia mengecil tak ada batasnya dan cahaya yang dilepaskannya tertarik kembali masuk ke dalamnya. Ia kelihatan gelap dan dijuluki Lubang Hitang (Black Hole).
Dikutip dari berbagai sumber
Nuwun..
